Vestimentum Liturgi Tradisi Siria Barat

Sebelum berganti pakaian dengan pakaian liturgi seorang imam  dalam tradisi Siria Barat ( baik Katolik Siria maupun Ortodoks Siria ) mengucapkan doa persiapan vestimentum seperti Tugas Imam Harun pada Tradisi Yahudi:

Hamba mohon, jauhkankanlah dari hamba, ya Tuhan Allah, pakaian yang tak kudus ini yang dengannya setan telah memakaikan kepada hamba kotoran dari niat jahat. Pakaikanlah kepada hamba pilihan pakaian yang layak untuk melayani kemuliaanMu dan memuji namaMu yang kudus, ya Tuhan kami dan Allah kami, selama-lamanya.

Lalu imam menggunakan phiro, yaitu topi hitam kecil yang harus dikenakan oleh seorang imam pada setiap kesempatan ibadat bersama. Phiro mempunyai arti literal buah, beberapa ahli bahasa Siria memperkirakan phiro berasal dari Bahasa Yunani phire, namun beberapa yang lain memperkirakan berasal dari Bahasa Persia kuno para yang berarti bulir. Phiro terdiri dari tujuh lapis yang menunjukkan kepenuhan tahbisan imamat

Phiro

Setelah phiro dikenakan kemudian imam menggunakan eskimo. Eskimo adalah kerudung hitam polos yang harus dikenakan oleh setiap imam menyelimuti phiro.

Jika imam tersebut adalah imam-biarawan yaitu imam selibat maka di atas eskimo dipasang satu penutup kecil yang berhiaskan sulaman duabelas salib kecil sebagai penanda calon penerus “kawanan duabelas” dari duabelas rasul Kristus atau disebut juga penanda “anak perjanjian” untuk menunjukkan bahwa suatu saat seorang imam selibat mungkin mengemban tugas uskup atau patriark.

Eskimo2

Lalu, imam mengenakan msone, yaitu kasut khusus untuk ibadat Qadisho Qurbono atau misa; karena produk hewani dilarang digunakan pada tempat suci, maka kasut ini tidak terbuat dari kulit hewan. Ketika proses mengenakan kasut sisi kiri imam mendaraskan:  Semoga kaki hamba, ya Tuhan Allah, berkasut oleh persiapan Injil kabar damai sehingga hamba mampu menginjak ular dan kalajengking dan semua kekuatan musuhMu, untuk selama-lamanya.

Ketika proses mengenakan kasut sisi kanan imam mendaraskan: letakkanlah di bawah kaki hamba, ya Tuhan Allah, semua kebanggaan palsu yang ditinggikan menentang pengetahuan-Mu, dan berikanlah bantuanMu sehingga hamba dapat menundukkan nafsu daging, untuk selama-lamanya.

msone

Kemudian, imam mengenakan kutino atau alba dalam tradisi Latin, sehelai jubah putih yang warnanya menunjukkan kemurnian imam. Imam melakukan tiga kali tanda salib di atasnya sambil berkata, Kenakanlah pada hamba , ya Tuhan,  jubah kemurnian ini melalui kekuatan Roh Kudus-Mu, dan supaya hamba layak  menjaga iman yang benar dan melangkah dalam jalan kesucian dan kebenaran di keseharian hidup saya.

 kutino

Kemudian imam mengenakan ‘kalung’ hamnikho, stola yang melambangkan imam yang dipersenjatai oleh takut akan Tuhan. Dia memembuat dua kali tanda salib di atasnya, sambil membaca Mazmur 18:39, 40: ikatlah pinggangku, ya Tuhan, dengan keperkasaan untuk berperang; Engkau tundukkan ke bawah kuasaku orang yang bangkit melawan aku. Kaubuat musuhku lari dari padaku, dan kubungkam orang-orang yang membenci ku.

hamniko

Lalu imam memakai ‘ikat pinggang’ zenoro yang berkisah tentang pengendaliannya  atas semua keinginan daging. Dia memembuat tanda salib sekali sambil membaca Mazmur 45:3: Ikatlah pedangMu di pinggangMu, ya mahaperkasa, dalam keagunganMu dan semarakMu! Engkaulah yang mahamulia.

zenoro

Imam kemudian mengenakan zende pada kedua lengannya yang melambangkan kesiapan imam untuk menjaga hukum Allah dan melakukan perbuatan baik. Dia membuat tanda salib dua kali untuk zende lengan kiri dan membacakan Mazmur 18:34 saat mengenakannya: Dia melatih tanganku untuk berperang, hingga lenganku sekuat busur kuningan. Dia kemudian membuat tanda salib sekali atas zende lengan kanan dan membacakan Mazmur 18:35 saat mengenakannya: Tangan kanan-Mu menyokong daku, dan didikan kasih-Mu mengangkat daku.

zende

Jika selebran/imam utama adalah prelatus, maka ia memakai ‘sorban’ yang disebut matsnaphto, tutup kepala yang melambangkan kain yang diikatkan pada kepala Tuhan ketika penguburan-Nya. Dia membuat tanda salib dua kali di atasnya dan memakainya membaca Mazmur 4:6-7: Siapa yang bisa menunjukkan Dia yang baik? Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan, Engkau telah memberikan sukacita kepadaku.

matsnaphto

Imam kemudian menempatkan pada phayno, jubah  yang melambangkan jubah Harun dengan banyak warna dan jubah tak-bercacat dari  Juruselamat. Dia membuat tanda salib di atasnya tiga kali sambil membaca Mazmur 132:9-10: Biarlah imam-imam-Mu berpakaian kebenaran, dan kebenaran-Mu dengan kemuliaan. Demi Daud, hamba-Mu, janganlah Engkau menolak orang yang Kauurapi!. Lalu ia mengenakan phayno sambil membaca Mazmur 132:9 : Biarlah imam-imam-Mu berpakaian keselamatan dan orang-orang kudus-Mu dengan kemuliaan.

phayno

Jika selebran adalah prelatus, maka dia mengenakan pada batrashil atau pallium yang mirip dengan Hamnikho tetapi lebih panjang baik ke depan dan ke belakang. Ini mengingatkan pada Jalan Salib Kristus. Dia membuat tanda Salib sekali sambil membaca Mazmur 27:5: Pada waktu aku tertimpa masalah, Dia melindungiku di balik bayangan tabernakel-Nya. Dia mengangkat aku ke atas gunung batu, dan sekarang dia akan mengangkat kepalaku di hadapan musuhku.

batrashil

Patriark mengenakan sakro sehelai `perisai’ berdampingan dengan zenoro di sisi kanan. Perisai iman melambangkan otoritas dan posisinya sebagai pelindung iman (Efesus 6:16 “.. dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat).

sakro

Uskup juga memakai kalung salib dan ikon, biasanya ikon Bunda Allah, pada lehernya. Sementara memakai salib ia membacakan Mazmur 34:5: Arahkan pandanganmu kepada-Nya dan berharaplah kepada-Nya, dan kamu tidak akan kecewa.

Kemudian prelatus itu mengambil tongkat uskup (muronitho) di tangan kirinya, yang melambangkan otoritas uskup dan mengingatkan kita akan lembaga kegembalaan, sambil mendaraskan Mazmur 110:2: Tuhan akan mengulurkan tongkat kekuasaanmu dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Kemudian uskup juga mengambil Salib kecil di tangan kanan, tempat kain yang disebut ‘tabir’ mqablonitho digantung sambil mendaraskan Mazmur 44:5: Demi Engkaulah kami menanduk para lawan kami, dengan nama-Mulah kami menginjak-injak orang-orang yang bangkit menyerang kami.. Setelah vestimentum lengkap dikenakan, kemudian selebran mencuci tangannya.

muronitho

 

( Sumber gambar: http://www.sor.cua.edu/  Situs resmi Ortodoks Oriental Siria )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s