Darasan Puisi Masa Pra-Paskah Tradisi Siria Barat – Ninive

poet of Qinotho

Puisi ini didaraskan pada masa Puasa Ninive, diambil dari Kitab Qinotho:

Mo(sungguh) safir(berbahagia) hwo(telah) leh(dia) l-nuno(ikan) Qitows (Qitows) kad mshalein( timbul pertanyaan) hwau leh(kepadanya) nune khabrauhi (sesama ikan) mono (mengapa) kai ekalth(kamu makan) ou mun (dan minum) eshthith drikho bashimo(apakah perbuatan baik ) poyakh menok(yang mengalir darimu) .
Khad dein (seorang) adiqo(benar) nfal men alpo(telah jatuh dari kapal) w-Aloho paqdani (dan Tuhan telah menyuruhku) w-eno bla’theh (dan aku menelannya) w-men yad tslotheh (dan dari doa)of burkotheh (yang sangat khusyuk)rikho bashimo ( kesukaan yang baik) ho (itu) poyakh menekh (mengalir darinya).

Puisi ini menceritakan tentang perbincangan Qitus, ikan paus yang menelan Nabi Yunus ketika di Babilonia, dengan kawanannya sesama ikan. Moral puisi ini adalah menceritakan sebentuk kebaikan yang sesungguhnya dalam ketulusan akan selalu memancar sekalipun ditelan oleh lingkungan yang dipenuhi watak jahat.

Catatan penulis: Nama Qitus atau Qitows mungkin adalah cerapan dari Bahasa Yunani Ichtyos/Ichtus.

Advertisements

Vestimentum Liturgi Tradisi Siria Barat

Sebelum berganti pakaian dengan pakaian liturgi seorang imam  dalam tradisi Siria Barat ( baik Katolik Siria maupun Ortodoks Siria ) mengucapkan doa persiapan vestimentum seperti Tugas Imam Harun pada Tradisi Yahudi:

Hamba mohon, jauhkankanlah dari hamba, ya Tuhan Allah, pakaian yang tak kudus ini yang dengannya setan telah memakaikan kepada hamba kotoran dari niat jahat. Pakaikanlah kepada hamba pilihan pakaian yang layak untuk melayani kemuliaanMu dan memuji namaMu yang kudus, ya Tuhan kami dan Allah kami, selama-lamanya.

Lalu imam menggunakan phiro, yaitu topi hitam kecil yang harus dikenakan oleh seorang imam pada setiap kesempatan ibadat bersama. Phiro mempunyai arti literal buah, beberapa ahli bahasa Siria memperkirakan phiro berasal dari Bahasa Yunani phire, namun beberapa yang lain memperkirakan berasal dari Bahasa Persia kuno para yang berarti bulir. Phiro terdiri dari tujuh lapis yang menunjukkan kepenuhan tahbisan imamat

Phiro

Setelah phiro dikenakan kemudian imam menggunakan eskimo. Eskimo adalah kerudung hitam polos yang harus dikenakan oleh setiap imam menyelimuti phiro.

Jika imam tersebut adalah imam-biarawan yaitu imam selibat maka di atas eskimo dipasang satu penutup kecil yang berhiaskan sulaman duabelas salib kecil sebagai penanda calon penerus “kawanan duabelas” dari duabelas rasul Kristus atau disebut juga penanda “anak perjanjian” untuk menunjukkan bahwa suatu saat seorang imam selibat mungkin mengemban tugas uskup atau patriark.

Eskimo2

Lalu, imam mengenakan msone, yaitu kasut khusus untuk ibadat Qadisho Qurbono atau misa; karena produk hewani dilarang digunakan pada tempat suci, maka kasut ini tidak terbuat dari kulit hewan. Ketika proses mengenakan kasut sisi kiri imam mendaraskan:  Semoga kaki hamba, ya Tuhan Allah, berkasut oleh persiapan Injil kabar damai sehingga hamba mampu menginjak ular dan kalajengking dan semua kekuatan musuhMu, untuk selama-lamanya.

Ketika proses mengenakan kasut sisi kanan imam mendaraskan: letakkanlah di bawah kaki hamba, ya Tuhan Allah, semua kebanggaan palsu yang ditinggikan menentang pengetahuan-Mu, dan berikanlah bantuanMu sehingga hamba dapat menundukkan nafsu daging, untuk selama-lamanya.

msone

Kemudian, imam mengenakan kutino atau alba dalam tradisi Latin, sehelai jubah putih yang warnanya menunjukkan kemurnian imam. Imam melakukan tiga kali tanda salib di atasnya sambil berkata, Kenakanlah pada hamba , ya Tuhan,  jubah kemurnian ini melalui kekuatan Roh Kudus-Mu, dan supaya hamba layak  menjaga iman yang benar dan melangkah dalam jalan kesucian dan kebenaran di keseharian hidup saya.

 kutino

Kemudian imam mengenakan ‘kalung’ hamnikho, stola yang melambangkan imam yang dipersenjatai oleh takut akan Tuhan. Dia memembuat dua kali tanda salib di atasnya, sambil membaca Mazmur 18:39, 40: ikatlah pinggangku, ya Tuhan, dengan keperkasaan untuk berperang; Engkau tundukkan ke bawah kuasaku orang yang bangkit melawan aku. Kaubuat musuhku lari dari padaku, dan kubungkam orang-orang yang membenci ku.

hamniko

Lalu imam memakai ‘ikat pinggang’ zenoro yang berkisah tentang pengendaliannya  atas semua keinginan daging. Dia memembuat tanda salib sekali sambil membaca Mazmur 45:3: Ikatlah pedangMu di pinggangMu, ya mahaperkasa, dalam keagunganMu dan semarakMu! Engkaulah yang mahamulia.

zenoro

Imam kemudian mengenakan zende pada kedua lengannya yang melambangkan kesiapan imam untuk menjaga hukum Allah dan melakukan perbuatan baik. Dia membuat tanda salib dua kali untuk zende lengan kiri dan membacakan Mazmur 18:34 saat mengenakannya: Dia melatih tanganku untuk berperang, hingga lenganku sekuat busur kuningan. Dia kemudian membuat tanda salib sekali atas zende lengan kanan dan membacakan Mazmur 18:35 saat mengenakannya: Tangan kanan-Mu menyokong daku, dan didikan kasih-Mu mengangkat daku.

zende

Jika selebran/imam utama adalah prelatus, maka ia memakai ‘sorban’ yang disebut matsnaphto, tutup kepala yang melambangkan kain yang diikatkan pada kepala Tuhan ketika penguburan-Nya. Dia membuat tanda salib dua kali di atasnya dan memakainya membaca Mazmur 4:6-7: Siapa yang bisa menunjukkan Dia yang baik? Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan, Engkau telah memberikan sukacita kepadaku.

matsnaphto

Imam kemudian menempatkan pada phayno, jubah  yang melambangkan jubah Harun dengan banyak warna dan jubah tak-bercacat dari  Juruselamat. Dia membuat tanda salib di atasnya tiga kali sambil membaca Mazmur 132:9-10: Biarlah imam-imam-Mu berpakaian kebenaran, dan kebenaran-Mu dengan kemuliaan. Demi Daud, hamba-Mu, janganlah Engkau menolak orang yang Kauurapi!. Lalu ia mengenakan phayno sambil membaca Mazmur 132:9 : Biarlah imam-imam-Mu berpakaian keselamatan dan orang-orang kudus-Mu dengan kemuliaan.

phayno

Jika selebran adalah prelatus, maka dia mengenakan pada batrashil atau pallium yang mirip dengan Hamnikho tetapi lebih panjang baik ke depan dan ke belakang. Ini mengingatkan pada Jalan Salib Kristus. Dia membuat tanda Salib sekali sambil membaca Mazmur 27:5: Pada waktu aku tertimpa masalah, Dia melindungiku di balik bayangan tabernakel-Nya. Dia mengangkat aku ke atas gunung batu, dan sekarang dia akan mengangkat kepalaku di hadapan musuhku.

batrashil

Patriark mengenakan sakro sehelai `perisai’ berdampingan dengan zenoro di sisi kanan. Perisai iman melambangkan otoritas dan posisinya sebagai pelindung iman (Efesus 6:16 “.. dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat).

sakro

Uskup juga memakai kalung salib dan ikon, biasanya ikon Bunda Allah, pada lehernya. Sementara memakai salib ia membacakan Mazmur 34:5: Arahkan pandanganmu kepada-Nya dan berharaplah kepada-Nya, dan kamu tidak akan kecewa.

Kemudian prelatus itu mengambil tongkat uskup (muronitho) di tangan kirinya, yang melambangkan otoritas uskup dan mengingatkan kita akan lembaga kegembalaan, sambil mendaraskan Mazmur 110:2: Tuhan akan mengulurkan tongkat kekuasaanmu dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Kemudian uskup juga mengambil Salib kecil di tangan kanan, tempat kain yang disebut ‘tabir’ mqablonitho digantung sambil mendaraskan Mazmur 44:5: Demi Engkaulah kami menanduk para lawan kami, dengan nama-Mulah kami menginjak-injak orang-orang yang bangkit menyerang kami.. Setelah vestimentum lengkap dikenakan, kemudian selebran mencuci tangannya.

muronitho

 

( Sumber gambar: http://www.sor.cua.edu/  Situs resmi Ortodoks Oriental Siria )

Rangkaian Liturgi Pra Paskah Menurut Tradisi Siria Barat

Holy Qurbono

Masa Pra-Paskah pada Tradisi Siria Barat dimulai oleh tradisi yang dikenal sebagai Puasa Ninive, yang mengacu pada peristiwa bertobatnya penduduk Ninive setelah mendengar pengajaran Nabi Yunus.

 Pada masa puasa ini orang-orang yang telah meninggal yaitu para biarawan, orang asing dan orang-orang beriman dikenang; dan hal ini berarti Gereja dan tradisi liturgi Siria Barat secara erat terikat pada peziarahan menuju tempat kudus dan makam para martir.

Liturgi Pra-Paskah dimulai dengan “Minggu Minyak” dan salah satu himne dari St. Ephrem menjadi kunci atas interpretasi liturgi ini: “ daging yang bernoda dikuduskan dengan minyak suci demi penebusan. Daging itu disucikan namun tidak dihancurkan. Tubuh itu jatuh oleh dosa dan bangkit seperti kanak-kanak.”

 Liturgi ini awalnya adalah ritus untuk penyucian para katekumen yang kemudian diperluas untuk semua umat beriman: Liturgi ini juga terhubung kepada penyucian di Bethania: “ Betapa lembut suara wanita pendosa ini ketika berucap kepada penjual minyak wangi: ‘ Berikan daku minyak dan sebutlah harganya; berikan daku minyak terbaik dan aku akan memadunya dengan duka air mataku, sesuatu yang lebih baik untuk menyuci Sang Sulung dari yang Mahatinggi; aku percaya kepada Sang Tuan yang melalui minyak ini Dia akan mengampuni dosa-dosaku. Sang Tuan yang memandang imannya dan mengampuninya’.”

  Enam Hari Minggu Pra-Paskah mengambil nama dari perikop-perikop Injil yang dibacakan: Mujizat di Kana, Penyembuhan Si Kusta, Penyembuhan Si Lumpuh, Penyembuhan pelayan komandan pasukan, Membangkitkan Anak Janda di Nain dan Penyembuhan Si Buta Bartimeus. Liturgi Siria dimaksudkan untuk memberi pencerahan pada aspek-aspek keajaiban dan peradilan Kristus.

 Mujizat Kana Galilea membuka runtun mujizat yang dikontemplasikan pada masa Pra Paskah untuk menunjukkan kasih, pengampunan, keselamatan dan kehidupan yang telah diberikan kepada kita oleh Kristus, penyembuh umat manusia.

Wedding in Cana

  Pada Vesper hari Minggu Pertama Prapaskah aspek ini dikembangkan dengan penambahan: “Tabib yang baik yang menyembuhkan semuanya melalui pertobatan, Tuhan, yang meraja dengan kebaikan dan Tabib yang Pertama, sumber kehidupan dan sumber kesembuhan, yang menyembuhkan jiwa kami melalui penyakit ragawi kami. Engkau yang disebut Orang Samaria Sejati kami dan yang membebaskan kami dari bilur-bilur dosa kami, telah mencurahkan kepada kami minyak misteri dan anggur.  Engkaulah, Dokter bagi jiwa dan Penyembuh derita, yang telah menandai kami dengan tanda Salib, dimeterai dengan meterai minyak suci, dipelihara dengan Tubuh dan DarahMu, memperindah jiwa kami dengan kemegahan kekudusanMu, melindungi kami dari setiap musim gugur , dari setiap cacat dan membawa kami kepada pusaka yang diberkati dan diperuntukkan bagi mereka yang telah melakukan tindakan penebusan dosa. ”

 Selain itu, tradisi Siria memandang di dalam mujizat Kana merupakan persatuan mempelai antara Kristus dengan Gereja-Nya, dan dengan seluruh umat manusia, di Kana Mempelai sejati adalah Kristus sendiri yang mengundang penderitaan manusia dan manusia berdosa untuk bersatu dengan Dia demi membawa manusia ke ruang perkawinan sejati yang adalah Taman Eden.

 St Efrem bernyanyi: “Berbahagialah tamumu, wahai kota indah Kana ! Mereka menikmati berkatmu  dan tempayan-tempayan yang  terisi dengan kata-katamu menyatakan bahwa engkau menemukan hadiah surgawi yang menggembirakan perjamuan surgawi!.”

Anggur baru yang menyatukan sesama tamu di perjamuan adalah simbol dari darah mulia yang mempersatukan kita dengan Kristus sendiri: “Engkaulah, mempelai terjanji yang  menebus Gereja dengan DarahMu, Engkaulah yang menggembirakan tamu pernikahan Kana, hanya Engkaulah yang  membuat GerejaMu bersukacita bersama TubuhMu. ” Liturgi Siria memandang tempayan-tempayan pada peristiwa perkawinan di Kana sebagai model dari jiwa yang menjadi tempat transformasi indah di mana Kristus sendiri memperbaharui semua yang lama.

 Pada semua hari Minggu di masa Pra-Paskah sebelum perayaan Sengsara Tuhan, kematian dan kebangkitanNya, tradisi Siria Barat ingin merayakan mujizat seperti yang diinginkan Sang Juruselamat untuk mewujudkan misi ilahi-Nya di antara manusia. Doa Pagi pada semua hari Minggu  Prapaskah mengandung doa ini:

 “Tuhan Maha Penyayang, yang turun ke bumi, dalam kasih sayangMu  bagi manusia, Engkaulah yang memurnikan si kusta, membuka mata orang buta dan membangkitkan orang mati, mendapati bahwa jiwa kami mungkin dimurnikan dan tubuh disucikan, bahwa mata hati kami dapat dibuka untuk memahami didikanMu sehingga, bersama orang-orang berdosa yang bertobat, kami dapat melambungkan pujian kami. ”

Mujizat-mujizat yang diceritakan dan dirayakan pada hari-hari Minggu ini membawa kita untuk merenungkan keajaiban rahmat ilahi di dalam jiwa manusia, sehingga banyak teks-teks liturgi dari Masa Prapaskah selalu berakhir dengan refren konklusif yang sama:
 
“Kami berdoa pula kepadaMu, Tuhan: sentuhlah jiwa kami dan memurnikanlah dari setiap noda, dari setiap kenajisan dosa, dan kasihanilah kami.”

Tata Cara Puasa

Puasa dimulai sejak tenggelamnya matahari (pukul 18:00) hingga keesokan harinya pukul 15:00 pada hari biasa dan hingga pukul 12:00 pada hari Sabtu dan Minggu dengan pantang ikan, daging, telur, produk susu termasuk keju dan mentega.

Puasa fisik tanpa arti jika tanpa transformasi jiwa yaitu dengan meditasi merenungkan kasih Tuhan yang sedemikian besar hingga sudi disalib.

Selama puasa lakukanlah doa puasa paling tidak tiga kali sehari ( pagi, siang, sore ) dengan berlutut lalu bersujud hingga dahi menyentuh tanah; setiap doa puasa ini diawali dan diakhiri dengan tanda Salib.

Untuk satu rangkaian doa:

Sujud pertama daraskan:  “ Kyrie Eleison ( Tuhan kasihanilah kami )”

Sujud kedua daraskan: “ Moran, itraham alein ( Tuhan kasihanilah kami )”

Sujud ketiga daraskan: “ Moran, khuts ouraham alein ( Tuhan berbaik hatilah dan kasihanilah kami )”

Sujud keempat: “ Moran, anein ouraham alein ( Tuhan jawablah dan kasihanilah kami )”

Sumber: http://communio.stblogs.org/2010/03/lent-in-the-western-syriac-tra.html

Patriak Baru Gereja Katolik Koptik Mesir

Ibrahim Isaac Sidrak

 

Uskup Minya, Mesir, Ibrahim Isaac Sidrak, telah terpilih menjadi Patriark Gereja Katolik Koptik pada sinode gereja yang diadakan di Kairo Senin (15/01/2013)

Rumor yang telah beredar di jejaring sosial sejak tanggal 15 Januari, terhadap berita resmi pada 16 Januari di homepage Gereja Katolik di Mesir.

Msgr. Kyrillos William, Uskup Asyut, dan Msgr. Yousef Abou El Kheir, Uskup Sohag sebagai unggulan.

Pada usia 57, Sidrak menjadi patriark muda menggantikan Patriark Antonios I Naguib yang kesehatannya menurun drastis setelah terserang stroke dan menjalani operasi otak. Menurut beberapa sumber, mulanya Uskup Sidrak menolak atas posisi patriark mengingat beratnya tanggung jawab yang harus diembannya, namun akhirnya beliau menerima atas desakan para uskup yang lain.

Lahir pada 19 Agustus 1955, di desa Bani Shouqayr, tidak jauh dari Asyut, Beliau belajar Filsafat dan Teologi di Seminari Patriarkat St. Leo di Maadi pinggiran Kairo. Ibrahim Sidrak ditahbiskan sebagai imam pada 7 Februari 1980. Selama dua tahun beliau melayani Paroki Malaikat Agung Mikhael di Kairo kemudian menempuh pendidikan di Universitas Pontifikal Gregoriana Roma menerima gelar doktor dalam bidang teologi dogmatik. Semenjak tahun 1990 hingga 2001 beliau menjadi rektor dari Seminari Patriarkat di Maadi. Kemudian beliau menjalani tahun sabatikal, setelah kembali ke Kairo, tempat beliau ditunjuk menjadi direktur pendidikan religius Salakini dan menjadi profesor di fakultas teologi di tempat yang sama di Kairo. Singkatnya, setelah menjadi pastor paroki di Katedral Bunda Mesir di Kota Nasr, Kairo, beliau ditahbiskan menjadi uskup Minya pada 15 November 2002.

Pengumuman publik akan terpilihnya patriark baru pada tanggal 17 Januari, pada permulaan pertemuan di Seminari Maadi. Hasil pemilihan ini kemudian dikabulkan sebagai persekutuan gerejawi oleh Paus Benediktus XVI tiga hari kemudian.

Saat ini Gereja Katolik Koptik memiliki 250,000 pemeluk, dan dibagi menjadi enam keuskupan dengan 175 imam diosesan dan 40 imam Fransiskan.

MENGENAL MOR MARON SANTO DARI LEBANON

Image

Telah sangat diketahui sejak abad ke 4, kehidupan membiara begitu bersinar di Mesir oleh St. Antonius dan di Palesina oleh St. Hilarion. Namun mungkin sedikit diketahui bahwa kehidupan asketik juga menembus Siria, Antiokia dan Mesopotamia kala itu. Salah satu penatua yang menghidupi tata cara asketik adalah seorang hermit/petapa bernama Maron.

Informasi paling awal tentang St. Maron (th. 410 M) ditemukan pada artikel Historia Religiosa (th. 440 M) oleh Theodoret, Uskup Sirus/Chyrrus (393 – 466) dan pada surat dari St. Yohanes Krisostomos, Patriark Konstantinopel, kedua tulisan itu dalam Bahasa Yunani

Theodoret adalah seorang penulis ternama pada masanya. Bukunya Historia Religiosa adalah sumber utama dari kehidupan membiara dan asketik di Siria. Pada bukunya, Theodoret menulis:

…Aku akan memanggil Maron, sebab dia begitu menyayangi paduan suara surgawi para kudus. Dengan hidup di alam terbuka, dia merombak puncak bukit yang dahulunya merupakan tempat pemujaan orang-orang fasik. Menyucikan bagi Allah noda setan di atasnya, mendirikan tenda kecil yang jarang dia gunakan. Dia bukan hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa, namun juga menuangkan buah pikirnya, memperkaya kandungan filsafat.

Sebuah pujian yang patut diberikan atas pekerjaan-pekerjaannya: sungguh seorang yang luar biasa dengan kelimpahan karunia penyembuhan, yang menjadikannya terkenal di mana-mana, menarik setiap orang dari segala penjuru mata angin dan diajar oleh pengalaman iman dari kisah-kisahnya. Seorang yang terserang demam disembuhkan oleh embun berkatnya, demamnya menjadi tenang, roh-roh najis pun pergi, dan banyak penyakit disembuhkan hanya dengan satu obat; ketika jamu para tabib hanya bisa digunakan untuk satu penyakit tertentu, doa orang kudus ini menjadi obat bagi setiap penyakit. Beliau bukan hanya mampu menyembuhkan penyakit tubuh, namun juga menerapkan perlakuan yang layak bagi jiwa, menyembuhkan keserakahan dan kemarahan manusia dengan mengajarkan pengendalian diri yang memberikan ajaran tentang keadilan.

Sumber utama yang lain tentang St. Maron berasal dari St. Yohanes Krisostomos yang dikenal pula sebagai “Yohanes Si Mulut Emas” yang menjadi Patriark Konstantinopel ttahun 397. Beliau mendedikasikan epistola/surat apostolik ke 36 kepada St. Maron ketika masa pembuangan di Cucussus, Armenia sekitar tahun 405.

“Kepada Maron, Imam Biarawan:

Kami terikat kepada Anda oleh kasih dan disposisi interior, dan melihat Anda di sini di hadapan kami seolah-olah Anda benar-benar hadir. Itulah mata cinta, pandangannya tidak terganggu oleh jarak atau redup oleh waktu. Kami berharap bisa lebih sering menulis untuk menghormati Anda, tapi karena ini tidak mudah karena sulitnya perjalanan …..Hai  itu membawa kami pada sedikit sukacita  mendengar tentang kesehatan Anda. Dan dari semua tolong doakan kami “.

Selamat memperingati hari St. Maron, orang kudus dari Siria yang setia dalam ketaatannya kepada Tuhan dan Tahta Suci Primat Roma yang diperingati setiap tanggal 9 Februari.

Image

Sosok Patriark Baru Gereja Katolik Khaldea

Image

(Radio Vatican) Paus Benediktus XVI telah mengabulkan keputusan persekutuan gerejawi, mengacu pada Kanon 76 § 2 dari kitab hukum kanonik untuk Gereja-gereja Timur atas pengangkatan Yang Mulia Raphael I Louis Sako, yang secara kanonik terpilih sebagai Patriark Babilonia Khaldea pada Sinode para uskup dari Gereja Katolik Khaldea yang dilaksanakan di Roma 28 Januari 2013.

Sinode para uskup Gereja Khaldea, dibimbing oleh Bapa Suci di bawah kepemimpinan Kardinal Leonardo Sandri, Prefek Kongregasi untuk Gereja-gereja Timur, secara kanonik memilih Uskup agung Kirkuk  ini sebagai Patriark Babilonia Khaldea pada tanggal 28 lalu. Patriark baru ini menggantikan Kardinal Emmanuel III Dely yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan, dan mengambil nama Louis Raphael Sarko I.

Lahir di Zakho (Iraq) pada 1 Juli 1948, Patriark Sako menyelesaikan pendidikan dasarnya di Mosul, sebelum menempuh pendidikannya di Seminari St. Yohanes ( Talmida Mar Yuhanan ) di bawah binaan Ordo Dominikan, ditahbiskan sebagai imam pada 1 Juni 1974, beliau melayani di Katedral Mosul hingga tahun 1979. Lalu, beliau dikirim ke Roma untuk menempuh pendidikan di Institute Pontifikal Timur ( Pontifical Oriental Institute ), menerima gelar doktor di bidang Patristristik Timur, lalu kembali beliau menerima gelar doktor dari Universitas Sorbonne di Paris dalam bidang sejarah. Ketika kembali ke Mosul beliau melayani di Paroki Penolong Abadi.

Sejak tahun 1997 hingga 2002 beliau menjabat sebagai rektor di Seminari Patriarkat Baghdad. Beliau kemudian kembali melayani Paroki Penolong Abadi di Mosul hingga terpilih sebagai uskup agung Kirkuk pada 27 September 2003. Beliau menerima tahbisan uskup pada 14 November. Beliau telah menganggit beberapa buku mengenai Bapa-bapa Gereja dan beberapa artikel.

Selain fasih berbahasa Arab dan Khaldea ( yaitu Bahasa Aram dengan dialek Asiria ), Patriark Raphael I Louis Sako lancar pula berbahasa Jerman, Perancis, Inggris dan Italia.

( sumber: http://www.news.va/en/news/vatican-abp-louis-sako-elected-patriarch-of-the-ch )