Salam Maria, Dari Siria Hingga Roma

Image

Umat Katolik Gereja Katolik ritus Latin/Romawi tentu sangat mengenal bahkan hafal Doa Salam Maria. Menurut sejarah Ritus Latin doa Salam Maria ini terformulasi tidak secara simultan namun melalui satu perjalanan iman umat terutama para biarawan dan biarawati sejak abad ke empat belas hingga abad limabelas. Namun demikian bibit doa ini sudah dimulai sejak abad ke duabelas yang berupa lantunan salam kepada Sang Bunda sebanyak 150 salam ( St. Aybert ). Formulasi pertama adalah “Salutatem” atau Salam yang merupakan bagian pertama dari Ave Maria lalu bagian kedua adalah “Petitionem” atau permohonan untuk pengantaraan doa. ( sumber: http://www.newadvent.org/cathen/07110b.htm )

Formulasi Salutatem merupakan bagian yang berasal dari teks Kitab Suci yaitu ucap salam Malaikat Gabriel (Lukas 1:28):

“  Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Shlom lek (salam bagimu), maliath taibutho (yang dipenuhi rahmat) Moran ‘amek (Tuhan kita menyertaimu) brikath bneshe (diberkatilah engkau di antara perempuan)“ ( Syriac Aramaic )

“(H)ave gratia plena Dominus tecum benedicta tu in mulieribus “ ( Latin, Vulgata )

Dan ucap kegembiraan Elisabeth ( Lukas 1: 42):

“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.”

mbaraktho aith bneshe (berkat bagimu di antara perempuan) wambarak hu piro dabkarsek (dan diberkatilah buah tubuhmu)” ( Syriac Aramaic )

benedicta tu inter mulieres et benedictus fructus ventris tui” ( Latin, Vulgata )

Terjemahan versi Indonesia mengambil dari terjemahan King James Bible yang menyatukan frase ‘diberkatilah engkau di antara semua perempuan’, namun bukan ini yang akan kita bahas. Bagian pertama dari Salam Maria ini dikenali sebagai doa salam dari setiap kepatriarkan mulai dari Antiokia, Aleksandria, Roma, Konstantinopel dan Yerusalem; yang membedakan adalah bagian petisi dari Doa Salam Maria ini.

Petisi dalam Salam Maria Ritus Latin berbunyi demikian:

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in hora mortis nostrae. Amen

“Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin”

Petisi dalam doa Salam Maria Latin ini sama persis artinya dengan doa Salam Maria dari saudara-saudara Ritus Siria Antiokia baik yang Ortodoks Siria maupun Katolik Siria, selengkapnya demikian transliterasi doa Salam Maria dalam Bahasa Siria-Aram atau disebut juga Shlomo Malakhoyo atau Salam ya Ratu:

Salam:

Shlom lek Maryam maliath taibutho, moran amek

Mbaraktho aith bnese wambarak hu piro dabkarsek Moran Yeshu’ mshikho.

Petisi:

Qadishta Maryam yoldath Aloho, tsaloi hlopain hatoye hosho wabso’ath mautan. Amin

Kemungkinan besar asal-usul dari petisi doa Salam Maria ini bermula dari syair puisi yang ditulis oleh St. Ephrem dari Siria yang sangat tampak menyiratkan petisi ini, mari kita lihat terjemahan syair St. Ephrem berikut ini:

Blessed Virgin, immaculate and pure you are the sinless Mother (yoldath) of your Son, the mighty Lord of the universe. You are holy and inviolate, the hope of the hopeless and sinful; we sing your praises. We praise you as full of every grace, for you bore the God-Man. We all venerate you; we invoke you and implore your aid…Holy and immaculate Virgin…be our intercessor and advocate at the hour of death and judgment…you are holy in the sight of God,

(373 A.D., St. Ephrem of Edessa)

+ Diberkatilah Sang Perawan, tanpa noda dan murni engkaulah Bunda (yoldath, yang menimang dalam rahim) Puteramu, Tu(h)an semesta alam. Engkaulah yang suci dan tak bercacat, harapan bagi yang putus asa dan berdosa; kami nyanyikan puji-pujianmu. Kami memujimu sebagai yang dilimpahi kepenuhan segala rahmat, sebab engkau mengandung ( yileth, mengandung ) Allah yang menjadi manusia; kami mengundangmu dan memohon bantuanmu Perawan Suci dan tanpa noda…jadilah pengantara dan pembela kami di saat kematian dan penghakiman kami…engkaulah yang suci di hadapan Allah.

Mari kita telaah sedikit kecocokan puisi St. Ephrem ini dengan petisi dari doa Salam Maria:

“Santa Maria Bunda Allah” sealur dengan frase “Diberkatilah Sang Perawan, tanpa noda dan murni engkaulah Bunda (yoldath, yang menimang dalam rahim) Puteramu, Tu(h)an semesta alam.”

“Doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati” sealur dengan frase “…harapan bagi yang putus asa dan berdosa” dan frase “…jadilah pengantara dan pembela kami di saat kematian dan penghakiman kami”

Tampak begitu dekat hubungan mariologi Latin dan Siria-Antiokia sehingga menjadi mudah saling “meminjam” formulasi; Ritus Latin meminjam petisi yang tersirat/implisit dan Ritus Siria-Antiokia meminjam formulasi Latin yang sebenarnya berasal dari Siria pula.

Image

Barekhmor ‘alkulan (Berkat Tuhan bagi kita semua)

Advertisements

Parabel of lighting a candle – Mathew 5:15

Pelita di atas gantang png

Wlo manuhrin shrogo w-soimin leh thokheith satho elo ‘al mnortho w-manhar l-kil ailin dab-beitho enun.

Neither do men light a candle and put it under a bushel, but upon a candlestick, that it may shine to all that are in the house.

Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

The Lamb who cleans the world’s sins – Anak Domba Dalam Ritus Siria Katolik

The Lamb who cleans the world sins - Estrangela Calligraphy

Ho Emroh d-Aloho haw dashqel khtaythoh d’alma.

Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

Behold, The Lamb of God who cleans the world’s sins

Yuhanon 1:29

Hampir semua Tradisi Suci Ritus Timur (kecuali Ritus Armenia) menggunakan roti beragi untuk keperluan Sakramen Ekaristi termasuk Ritus Siria Katolik. Menurut keputusan Konsili Florence tahun 1439 penggunaan roti beragi ataupun tak beragi adalah benar ( valid ) bagi Tradisi Suci ritus yang bersangkutan artinya Tradisi Suci Timur tidak boleh menggunakan roti tak beragi dan Tradisi Suci Latin tidak diperbolehkan menggunakan roti beragi ( Codex Iuris Canonicci art. 926 )

Secara simbolis Ritus Timur menggunakan roti beragi sebagai lambang inkarnasi roh ke dalam tubuh, dan roh memberikan kehidupan, oleh karena itu “roti kehidupan” harus menggunakan roti beragi. Ritus latin menggunakan roti tak beragi karena Tuhan Yesus menggunakannya pada Perjamuan Terakhir.

Ritus Siria Katolik mengimani transubstansiasi yaitu perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus atau sebagai Anak Domba Allah yang dikurbankan untuk menghapus dosa dunia, oleh sebab itu misa dalam Ritus Siria disebut Qurbono.

Barekhmor ‘alkulan

PUISI-PUISI ST. EPHREM – TENTANG KELAHIRAN KRISTUS

Christmas card

Tuhan mendatangi  sang perawan

Menjadikan diri-Nya pelayan

Sang Sabda menitisi sang perawan

Tinggal bersunyi di dalam rahim yang rawan

Sang petir menyambar sang perawan

Bukan hendak merebak kekalutan

 

Sang Gembala mengunjungi sang perawan

Dan Anak Domba pun lahir, yang menangis dalam kesahajaan

Kerana rahim Maria telah membalikkan peran:

Sang Esa pencipta segala sesuatu

Bukan lahir kaya, tetapi  dalam mislkin lugu.

 

Yang Mahakuasa menemui sang perawan

Namun berkunjung dalam kesederhanaan

Sang Gemerlap berkunjung kepadanya

Tetapi berkain lembaran sederhana

Sang Esa pemelihara kita

Bercekam lapar

 

Sang Esa pelimpah tirta bagi sesiapa

Berkecimpung dahaga.

Telanjang dan tak berkain Dia datang dari sang perawan,

Dia yang menghias segala sesuatu dengan keindahan.

Image

Gambar I. St. Alexius

Agathopodes dan Philo

Dua orang diakon dari Antiokia, mereka merupakan pembantu tugas-tugas kerasulan dari St. Ignatius. Merekalah yang menulis biografi St. Ignatius yang merupakan uskup Antiokia kedua setelah diangkat oleh St. Petrus sebelum berkarya di Roma. Kedua orang kudus ini pulalah yang membawa kembali relikwi St. Ignatius dari Roma kembali ke Antiokia. Kedua orang kudus ini meninggal tahun 150.

Alexius dari Roma

Alexius dikisahkan adalah seorang anak senator Roma yang kaya, namun dia lebih memilih hidup miskin dan meninggalkan perjodohannya lalu hidup dengan menghinakan diri sebagai pengemis petapa di Edessa/Ur-Hoi di Siria pada masa Uskup Rabulla ( th. 412-435), selama menjadi pengemis dia bahkan sering disedekahi dan dimintai doa oleh bekas pembantu  rumah tangga ayahnya yang tidak mengenalinya lagi. Secara ajaib Bunda Maria menampakinya dan memberinya gelar “Pria yang hidup bagi Tuhan”.

Alexius diperintahkan kembali ke Roma oleh Sang Bunda, lalu Alexius kembali ke rumah orang tuanya yang sudah tidak mengenalinya lagi, namun sebagai orang Kristen yang baik kedua orang tua Alexius memberinya tumpangan di rumah mereka dan memberinya pekerjaan sebagai pembersih rumah. Alexius memilih tinggal di dalam ruang sempit di bawah tangga rumahnya dan mengajar iman/katekese bagi anak-anak. Identitas dirinya diketahui oleh keluarganya setelah dia meninggal, karena ditemukannya tulisan-tulisan di atas tubuhnya yang menceritakan tentang asal-usulnya, bagaimana hidupnya sebagai petapa dan pengemis di Siria, serta sebab mengapa dia membatalkan perjodohannya sebab dia lebih menyintai Tuhan.

Anastasius martir dari Antiokia

Anastasius adalah seorang yang berpindah iman dari penyembah dewa-dewa Romawi menjadi Kristen yang dibunuh pada masa Kaisar Deokletianus dia menjadi martir bersama Julianus, Antonius, Celsus, dan Marcionilla.

Anastasius II dari Antiokia, uskup.

Anastasius II atau lebih dikenal sebagai Anastasius Muda adalah uskup Antiokia yang menggantikan pendahulunya Anastasius I. Beliau sangat tegas dan keras dalam memberantas pelanggaran simoni (sebuah pelanggaran akan pengumpulan dan penggunaan uang, termasuk korupsi) pada tahun 599 dengan dukungan dari Paus Gregorius Agung.  Pada tahun 609 Uskup Anastasius muda dibunuh oleh sebab sebuah pemberontakan orang-orang Yahudi-Siria melawan Kaisar Phocas.

Anicetus, Paus.

Anicetus merupakan salah satu paus Roma yang berasal dari bangsa Siria yang melayani Gereja dari tahun 150 – 168. Beliau lahir di Emessa, Siria.

Pada masa pontifikatnya, St. Polikarpus (murid dari St. Yohanes Rasul) pernah mengunjunginya untuk berdiskusi  mengenai perayaan Paskah, St. Polikarpus dan keuskupannya, Smyrnea memperingati peristiwa Penyaliban pada hari ke-14 di Bulan Nisan sehingga Paskah tidak selalu jatuh pada hari Minggu (sehari sesudah Sabath Yahudi), sedangkan Gereja Roma memperingati Paskah selalu dijatuhkan hari Minggu sehingga peringatan penyaliban pasti jatuh Hari Jumat.

Penentuan tanggal tidak menemukan titik temu dan keuskupan Smyrnea tetap memperingati peristiwa Penyaliban sesuai Tradisi dari St. Polikarpus hingga selama beberapa abad.

Antonius dari Antiokia.

Antonius dari Antiokia adalah seorang imam Kristen yang menjadi martir bersama Julianus, Anastasius, Celsus dan Marcionilla pada masa Kaisar Deokletianus. Antonius mengikuti cara hidup imam-imam Romawi, menjadi biarawan, hidup selibat dan mengkonsimsi akar-akaran dan tumbuh-tumbuhan lainnya.

ORANG-ORANG KUDUS DARI SIRIA – Seri II